MEMAHAMI UNTUK MENCARI SOLUSI

_Kajian Orang Tua dan Guru__

Belajar harus berjalan, menjamin kesehatan harus diutamakan_Masa pandemi COVID-19 mengubah pola pembelajaran. Sebelum ini pelaksanaan pembelajaran dilakukan dengan pola tatap muka (PTM), berada di ruang kelas belajar di sekolah bersama guru dan siswa, setiap hari kecuali libur umum, libur khusus atau cuti-bersama sesuai ketentuan pemerintah. Pada masa pandemi COVID-19, pola pembelajaran berubah. Pembelajaran tatap muka dengan pembatasan sesuai protokol kesehatan mengacu pada peraturan pemerintah. Muncul pola baru yaitu pembelajaran jarak jauh (PJJ). PJJ ini pun ada dua macam, PJJ dengan menggunakan jaringan internet (PJJ daring) dan PJJ di luar jaringan internet (PJJ luring). Ketiga pola pembelajaran itu, dilakukan oleh guru /sekolah sesuai kebijakan pemerintah, sesuai kebutuhan atau keadaan.Disimpulkan ada tiga pola pembelajaran masa pandemi:Pola pembelajaran pertama, peserta didik datang ke sekolah, guru melayani, disebut pembelajaran Tatap Muka (PTM). Pada masa pandemi COVID-19, PTM dilakukan dengan pembatasan jumlah peserta didik dalam kelas, yaitu maksiat 50 ℅ dari jumlah siswa atau maksiat 16 peserta didik dalam ruangan. Dengan pola ini peserta didik belajar berganti dengan sistem ganjil genap. Pola pembelajaran kedua, peserta didik berada di rumah menggunakan perangkat dan jaringan internet, guru melayani peserta didik pembelajaran jarak jauh disebut PJJ Daring.Pola pembelajaran ketiga, peserta didik berada di rumah dan tidak pula memiliki perangkat jaringan internet, guru melayaninya dengan pola PJJ Luring. Pola ini sama dengan pola kedua, namun bahan ajar berupa lembar kerja peserta didik (LKPD) diantar ke rumah siswa atau siswa menjemput ke sekolah secara periodik dengan tetap mematuhi protokol kesehatan, baik saat mengantarkan atau menjemput LKPD. Tiga pola pembelajaran diatas diakui tidak efektif dan efisien. Dirasakan oleh guru dan sekolah dirasakan target pencapaian kurikulum dengan persentase rendah. Bahkan dirasakan oleh orang tua peserta didik, kualitas, efektivitas pembelajaran merosot dari pola normal sebelum pandemi. Alternatif yang bisa diupayakan sebagai usaha mencari solusi adalah menyediakan berbagai bahan ajar suplemen dalam bentuk yang mudah diperoleh peserta didik dan memberi sarana atau akses kepada peserta didik untuk berkonsultasi. Bahan ajar suplemen yang dimaksud adalah semisal video rekaman pembelajaran guru yang diunggah di media sosial youtube, instagram, FB, dll. Bahan ajar yang terdapat pada website resmi kementerian pendidikan dan kebudayaan, serta beberapa platform lainnya. Buku literasi di perpustakaan, disamping Buku paket siswa. Sarana komunikasi, konsultasi yang dimaksud adalah berupa komunikasi antara guru dan peserta didik, melalui berbagai media komunikasi, baik telepon, Whatsapp, messenger, zoom meeting, google meeting, dll pemanfaatan media sosial dan platform yang dimiliki guru dan siswa. Memang tak mudah mengembalikan kepada kondisi semula. Pola pembelajaran normal, standar seperti sedia kala. Kita ambil hikmahnya, mungkin kita diuji untuk terus kreatif berkarya membuat berbagai upaya dan strategi pembelajaran dengan kondisi, situasi dan keterbatasan sarana yang ada.Sangat perlu kerjasama antara sekolah dan keluarga. Meskipun segala usaha belum menjawab kebutuhan dan apalagi mutu pendidikan, namun setidaknya kita sudah melakukan berbagai berupaya.Mari bekerjasama. Salam pendidikan.