TANTANGAN GURU BIMBINGAN KONSELING MASA PANDEMI

Oleh: Adina Suryadi R. S.Pd.,

Wabah Corona Virus Disease-19 (Covid-19) ditetapkan sebagai pandemi global dan BNPB menetapkan status darurat Nasional.Berkaitan dengan hal tersebut pemerintah telah melakukan upaya preventif guna mencegah dan meminimalkan penyebaran virus corona. Kebijakan yang di ambil
pemerintah Indonesia yaitu dengan menerapkan social distancing atau menjaga jarak dan work from home (WFH) atau kerja dari rumah baik pengawai negeri maupun swasta. Kebijakan ini mempunyai
beberapa implikasi pada berbagai bidang ,tidak terkecuali bidang pendidikan.

Mentri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Anwar Makarim telah mengeluarkan surat edaran pelaksanaan pendidikan dalam masa darurat Covid dimana salah satu kebijakan yaitu menetapkan bahwa proses belajar untuk sementara dilakukan secara online atau daring dari rumah
masing-masing. Namun pada daerah yang masih berada di zona hijau masih menerapkan pembelajaran tatap muka seperti yang ada di SMPN 30 Tebo yang masih menerapkan sistem tersebut. Akan tetapi sistem
pembelajaran di SMPN 30 tidak seperti biasanya, terdapat pengurangan jam pelajaran yang biasanya selesai jam 14.00 menjadi 12.50. hal ini berdampak pada guru Bimbingan dan konseling yang tidak mendapatkan jam tatap muka dengan siswa, selain itu sistem ganjil genap yang diterapkan juga membuat guru BK kesulitan dalam memberikan layanan.
Guru BK mengalami kesulitan untuk memantau perkembangan dan menjalankan programprogram yang sudah di buat oleh guru BK sebelumnya. Pada saat seperti inilah peran guru bimbingan
konseling makin diperlukan untuk membangun komunikasi dan memberikan perhatian pada peserta didik. Guru Bk dituntut bisa mengembangkan keterampilan di masa pandemi agar masih bisa
menjalankan program-program yang sudah di buat dapat terlaksana.
Untuk strategi konseling yang kreatif guru BK bisa menggunakan berbagai macam cara seperti :

  1. Mengedukasikan siswa dengan layanan informasi, seperti yang telah ada di SMPN 30 yakni papan bimbingan.
  2. Membantu membuat panduan regulasi diri dengan layanan konseling kelompok dan lintas budaya
  3. Mengembangkan life skill melalui media social (Instagram)
    Di masa pandemi saat sekarang ini memang banyak menguras tenaga dan pikiran, setiap individu di tuntut untuk mampu beradaptasi dengan lingkungan dengan baik. Kegiatan, program, dan sistem juga masih belum sempurna masih memerlukan kebijakan dan transisi dari tiap individu, maka dari itu diharapkan setiap lini atau aspek membantu untuk mendukung sistem atau program agar terlaksana dengan baik.