DAMPAK PANDEMI COVID-19 PADA PERPUSTAKAAN

Aulia Agustina

Coronavirus Disease 19 atau covid 19, menurut informasi dari berbagai media virus ini berasal dari sebuah pasar tradisional yang berada di kota Wuhan, China. Hingga saat ini covid 19 sudah menjangkit hingga 213 Negara. Akibatnya setiap negara mengambil kebijakan seperti lockdown, phsycal distanting, penerbangan antar negarapun ditutup.


Di Indonesia sendiri berawal dari dua orang warga Jakarta yang terpapar virus ini oleh warga negara asal Jepang. Pemerintah pusat dan daerah pun berpacu melakukan pengetesan dan penelusuran kasus covid 19. Sebulan berselang seluruh provinsi di Indonesia mengkonfirmasikan adanya covid 19. Kasus pertama di provinsi Jambi merupakan penduduk asal Kabupaten tebo, sehingga pemerintah daerah Kabupaten Tebo pun mengambil kebijakan lockdown. Dampak yang dihasilkan luar biasa, sekolah diliburkan hingga waktu yang belum ditentukan. Salah satu tempat yang ikut terdampak ialah perpustakaan sekolah tak terkecuali Perpustakaan SMP Negeri 30 Kabupaten Tebo pada saat pandemi hanya diisi dengan kegiatan pengelolaan buku yang dilakukan oleh petugas perpustakaan.

Karena sekolah diliburkan maka tidak ada kunjungan siswa. Setelah new normal, kebijakan yang dibuat pemerintah pada masa pandemi. sekolah mulai diaktifkan kembali dengan syarat mematuhi protokol kesehatan dan izin orang tua dari siswa. Pada masa pendemi SMP Negeri 30 Kabupaten Tebo mengaktifkan sekolah kembali dengan sistem ganjil genap, jam pelajaran pun di kurangi dari 40 menit menjadi 20 menit perjam, dengan waktu istirahat selama 10 menit. Siswa juga dilarang untuk berpergian ke luar kelas selama istirahat.


Dengan waktu sesingkat itu seperti yang diceritakan di atas, siswa tidak mempunyai kesempatan untuk berkunjung ke perpustakaan. Hanya saat pembagian buku paket pada awal semester karena sudah memasuki semester baru. Setelah itu, tidak ada siswa yang berkunjung ke perpustakaan. Padahal, petugas perpustakaan telah membuat papan informasi dan mengadakan jadwal kunjungan tiap kelas.


Melihat kondisi yang tidak memungkinkan siswa untuk berkunjung, petugas perpustakaan mengadakan kunjungan kelas untuk mengadakan pojok baca, sehingga siswa tetap bisa membaca meskipun tidak berkunjung ke perpustakaan. Namun, karena sistem ganjil genap dan waktu yang
terbatas siswa tidak dapat bekerja sama kepada seluruh anggota kelas untuk mengadakan pojok baca.